SEKILAS INFO

     » KECAMATAN SAWAHAN KABUPATEN MADIUN TELP ( 0351 ) 463797,Alamat Kantor Camat Sawahan: JL RAYA SAWAHA
Selasa, 25 November 2014 - 20:07:33 WIB
PRODESKEL

Diposting oleh : Administrator
Kategori: KASI PMP - Dibaca: 182 kali

BAB  I

PENDAHULUAN

  1. a.       Pengertian Desa

Sejarah Kecamatan Sawahan dimulai semenjak didirikannya Kantor Kecamatan Sawahan pada tahun 1986 .Kecamatan Sawahan,merupakan wilayah pemekaran dari Kecamatan Jiwan.

Pada perkembangannya, Kecamatan Sawahan dipimpin oleh seorang Camat yang bertugas untuk melaksanakan kewenangan yang dilimpahkan oleh Bupati Madiun sebagai Kepala Daerah, sehingga  berdasarkan Perda Kabupaten Madiun No. 2 Tahun 2008  tentang Urusan Pemerintah yang menjadi Kewenangan Kabupaten Madiun berdasarkan azas otonomi.

Kecamatan Sawahan merupakan salah satu wilayah Kabupaten Madiun yang terletak di bagian Barat dan memiliki luas wilayah 22,15 Km2 yang terdiri dari 13 desa yaitu Desa Bakur, Desa Cabean, Desa Golan, Desa Kanung, Desa Kajang, Desa Klumpit,Desa Krokeh,  Desa Lebakayu, Desa Pule, Desa Pucangrejo, Desa Rejosari, Desa Sawahan, Desa Sidomulyo.

Desa memiliki perkembangan tersendiri, namun kita harus awali dengan memahami desa. Pemahaman desa secara umum dan khusus sudah kita ketahui. Sebagai suatu komunitas kecil, yang terikat pada lokalitas tertentu baik sebagai tempat tinggal maupun bagi pemenuhan kebutuhan dan terutama yang tergantung pada pertanian, desa cenderung memiliki karakteristik-karakteristik tertentu yang sama dan ciri-ciri khusus antara lain jenis desa swakarya, swadaya dan desa swasembada.

Pedesaan memiliki arti tersendiri dalam kajian struktur sosial atau kehidupanya. Dalam keadaan yang sebenarnya, pedesaan dianggap sebagai standar dan pemeliharaan sistem kehidupan bermasyarakat dan kebudayaan asli seperti, gotong royong, tolong menolong, persaudaraan, kesenian, kepribadian, adat istiaat, nilai-nilai dan norma.

Pedesaan acap kali dideskripsikan sebagai tempat kehidupan bermasyarakat di mana anggota masyarakatnya bergaul dengan rukun, tenang, selaras, dan akur. Konflik sosial biasanya berkutat pada peristiwa sehari-hari, misalnya hal pemilikan tanah, gengsi, perkawinan, perbedaan antar kaum muda dan tua, dan persoalan wanita dan pria. Pedesaan juga sering dipahami tenteram, guyup, rukun.

UU no. 22 tahun 1999 desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan Nasional dan berada di daerah Kabupaten.

Sedangakan, defenisi resmi pengertian desa tertuang dalam Undang-Undang  No. 5 tahun 1979 “desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung dibawah Camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

No

Provinsi

Kabupaten/Kota

Kecamatan

Status

Kode PUM

Desa/Kelurahan

Luas (Ha)

1

JAWA TIMUR

KABUPATEN MADIUN

SAWAHAN

DESA

3519142002

KANUNG

228,00

2

JAWA TIMUR

KABUPATEN MADIUN

SAWAHAN

DESA

3519142001

SIDOMULYO

207,96

3

JAWA TIMUR

KABUPATEN MADIUN

SAWAHAN

DESA

3519140003

REJOSARI

227,14

4

JAWA TIMUR

KABUPATEN MADIUN

SAWAHAN

DESA

3519142007

BAKUR

231,89

5

JAWA TIMUR

KABUPATEN MADIUN

SAWAHAN

DESA

3519142004

PUCANGREJO

195,61

6

JAWA TIMUR

KABUPATEN MADIUN

SAWAHAN

DESA

3519142005

KROKEH

81,57

7

JAWA TIMUR

KABUPATEN MADIUN

SAWAHAN

DESA

3519142006

LEBAKAYU

187,86

8

JAWA TIMUR

KABUPATEN MADIUN

SAWAHAN

DESA

3519142008

GOLAN

163,56

9

JAWA TIMUR

KABUPATEN MADIUN

SAWAHAN

DESA

3519140009

CABEAN

253,81

10

JAWA TIMUR

KABUPATEN MADIUN

SAWAHAN

DESA

3519142010

SAWAHAN

190,80

11

JAWA TIMUR

KABUPATEN MADIUN

SAWAHAN

DESA

3519142011

PULE

76,18

12

JAWA TIMUR

KABUPATEN MADIUN

SAWAHAN

DESA

3519140012

KAJANG

130,00

13

JAWA TIMUR

KABUPATEN MADIUN

SAWAHAN

DESA

3519142013

KLUMPIT

1.243,30

 Desa Swadaya

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia desa swadaya adalah desa yang masih terikat oleh tradisi karena tarif pendidikan yang masih relatif rendah, produksi yang masih diarahkan untuk kebutuhan primer keluarga dan komunikasi keluar sangat terbatas. Desa ini bersifat sedenter, artinya sudah ada kelompok keluarga yang bermukim secara menetap di sana.

Norma yang terdapat di desa ini adalah, (1) mata pencaharian penduduk di sektor primer yaitu sebagian besar penduduk hidup dari pada pertanian, peternakan, nelayan, dan pencaharian dari hutan. (2) Adat istiadat masih mengikat . (3).Kelembagaan  dan pemerintahan desa masih sederhana.  Prasarana kurang memadai .

Ciri-ciri desa swadaya:

  1. Daerahnya terisolir dengan daerah lainnya.
  2. Penduduknya jarang.
  3. Mata pencaharian homogen yang bersifat agraris.
  4. Bersifat tertutup.
  5. Masyarakat memegang teguh adat.
  6. Teknologi masih rendah.
  7. Sarana dan prasarana sangat kurang.
  8. Hubungan antarmanusia sangat erat.
  9. Pengawasan sosial dilakukan oleh keluarga

 

2.2     Desa Swakarya

Desa swakarya adalah desa yang setingkat lebih maju dari desa swadaya, di mana adat-istiadat masayarakat desa sedang mengalami transisi, pengaruh dari luar sudah mulai masuk ke desa, yang mengakibatkan perubahan cara berpikir dan bertambahnya lapangan pekerjaan di desa, sehingga mata pencaharian penduduk sudah mulai berkembang dari sektor primer ke sektor sekunder, produktifitas mulai meningkat dan diimbagi dengan bertambahnya prasarana desa. Adat yang merupakan tatanan hidup masyarakat sudah mulai mendapatkan perubahan sesuai dengan perubahan yang terjadi dalam aspek kehidupa sosial.

Norma-norma desa swakarya: (1). Mata pencaharian penduduk di sektor sudah mulai bergerak di bidang kerajinan dan industri kecil, seperti pengolahan hasil pengawetan bahan makanan. (2). Out put desa merupakan jumlah dari keseluruhan produksi desa yang dinyatakan dalam nilai rupiah di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kerajinan, perdagangan pada tingkat sedang.(3). Adat istiadat dan kepercayaa penduduk berada pada tingkat transisi.

 

 

            Desa ini mulai mampu menyelenggarakan rumahnya tangganya sendiri, administrasi cukup baik, dan LKMD mulai berfungsi menggerakkan peran serta, masyarakat dalam pembangunan.

Ciri-ciri desa swakarya adalah:

  1. Kebiasaan atau adat istiadat sudah tidak mengikat penuh.
  2. Sudah mulai menpergunakan alat-alat dan teknologi
  3. Desa swakarya sudah tidak terisolasi lagi walau letaknya jauh dari pusat perekonomian.
  4. Telah memiliki tingkat perekonomian, pendidikan, jalur lalu lintas dan prasarana lain
  5. Jalur lalu lintas antara desa dan kota sudah agak lancar.

 

 

 

2.3     Desa Swasembada

Desa swasembada atau disebut juga dengan desa maju atau berkembang. Menurut kamus besar bahasa Inodesia desa swasembada adalah desa yang lebih maju daripada desa swakarya dan tidak terikat oleh adat-istiadat. Pengertian secara umum, desa swasembada adalah desa yang masyarakatnya telah mampu memanfaatkan dan mengembangkan sumber daya alam dan potensinya sesuai dengan kegiatan pembangunan regional. Di desa ini adat istiadat dalam masyarakatnya sudah tidak mengikat, hubungan antar manusia bersifat nasional. Mata pencaharian penduduk sudah beraneka ragam dan bergerak di sektor tertier, teknologi baru sudah benar-benar di bidang pertanian, sehingga produktivitasnya tinggi. Diimbangi dengan prasarana desa yang cukup. Bentuk desa bervariasi, tetapi rata-rata memenuhi syarat-syarat pemukiman yang baik. Para pemukim sudah banyak berpendidikan setingkat dengan sekolah atas.

Norma-norma desa swasembada (berkembang) ialah, (1) mata pencaharian penduduk di sektor tertier yaitu sebagian besar penduduknya bergerak di bidang perdagangan dan jasa. (2) out put desa merupakan jumlah dari seluruh produksi desa di bidang pertanian, peternakan, perkebunanam perikanan dan perdagagngan/ jasa sudah tinngi.

 Ciri-ciri desa swasembada:

  1. kebanyakan berlokasi di ibukota kecamatan.
  2. penduduknya padat-padat.
  3. tidak terikat dengan adat istiadat
  4. telah memiliki fasilitas-fasilitas yang memadai dan labih maju dari desa lain.
  5. partisipasi masyarakatnya sudah lebih efektif